Halo...
Selamat
tahun baru 2016. Semangat baru tentunya.. :D
Sudah lebih dari dua bulan saya tidak lagi memposting tulisan di blog saya, hhe. Terkendala berbagai hal.
ehm..
Sudah lebih dari dua bulan saya tidak lagi memposting tulisan di blog saya, hhe. Terkendala berbagai hal.
ehm..
Akhir
tahun merupakan lembar terakhir dalam kehidupan kita selama periode 365 hari. Akan
berlanjut ke halaman baru dan semua dimulai kembali. Tepat pada tanggal 31
Desember 2015 kemarin, seperti biasanya saya selalu beribadah akhir tahun di
gereja. Namun berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, saya tidak biasanya
harus berpikir keras untuk mengevaluasi diri selama menjalani kehidupan
setahun. Sebuah pelajaran dan perenungan yang menarik buat saya diakhir tahun
2015.
Beberapa
hari sebelum perayaan tahun baru merupakan hari – hari besar yang berat menurut
saya. Dalam perayaan besar natal dan liburan, saya terpaksa harus jauh dari
keluarga besar dan orang tua. Menjalani semua hari besar tersebut seorang diri dan saya
malah sempat men-judge inilah “most
saddest christmas ever!”. Saat yang lain berkumpul dengan semua
keluarga dalam sukacita, berada dalam kecukupan, makanan dimana – mana, saya harus terdiam dan
hanya menyaksikan semuanya melalui media sosial.
Tanpa
disadari, kita sekarang merupakan konsekuensi dari doa – doa kita sebelumnya. Apa
yang pernah kita minta pada TUHAN cendrung sangat cepat kita lupakan. Dan inilah
sebuah sikap tidak bersyukur yang saya alami dan kamudian menjadi bahaan perenungan
saya pada akhir tahun 2015. Bersyukur bahwa saya teringat akan perkara ini.
Mengapa
saya sebut konsekuensi?
Konsekuensi
merupakan hasil dari sebuah pilihan – pilihan kita sebelumnya (menurut saya). Pilihan yang
sudah kita tetapkan membawa kita kepada sebuah konsekuensi. Pahit manis, suka
duka, berat ringan dalam pandangan saya merupakan konsekuensi dari pilihan. Jawaban
doa merupakan sebuah konsekuensi dan tanggung jawab dari TUHAN dan pilihan kita.
Jika
saya kembali ke 5 tahun silam, ditahun 2011. Tahun pertama saya menuju ke
Yogyakarta. Tahun dimana saya giat berdoa dan bergumul untuk tempat saya
melanjutkan studi saya. Kini, diakhir tahun 2015, saya lupa akan hari tersebut
dimana saya berdoa karena butuh dana untuk kuliah, dimana saya berdoa untuk
prodi yang tepat, untuk kampus yang tepat, untuk tempat tinggal selama perkuliahan,
dan sebagainya.
Memang
“lupa” adalah sifat “natural” manusia dan sangat manusiawi. Namun sifat tidak
bersyukur, adalah sikap manusia paling malang didunia, tepat seperti apa yang
saya sempat rasakan selama perayaan Natal di bulan Desember. Dan saya lupa
serta tidak bersyukur untuk jawaban doa saya.
Untuk
segala jawaban doa memang ada yang tepat sesuai dengan kebutuhan kita, namun
ada beberapa yang harus jadi pelajaran untuk diri sendiri. TUHAN bukannya tidak
bisa memberi yang terbaik, IA selalu memberi yang terbaik. Namun seringkali
yang saya pelajari adalah jawaban doa
dari TUHAN mengubah 2 hal, yaitu yang saya doakan dan diri saya sendiri. Seolah jawaban doa punya + dan - ya :D tapi percaya, TUHAN tahu memberi roti kepada anak-anakNya jika kita minta roti..
Jadi, cukup menarik buat saya, akhir tahun saya bisa merenungkan betapa saya seorang
pelupa, pelupa akan doa saya sendiri dan lupa bersyukur :D .. 2016 adalah
kesempatan baru untuk memperbaiki semuanya. Kini saya berada tepat 1 hari 22
jam ditahun yang baru 2016, bukan tanpa alasan, TUHAN beri kesempatan untuk
kita belajar banyak dan evaluasi dari tahun sebelumnya. Siap untuk next level!
Renungan
Firman Tuhan yang mendasari ini semua ada di Ulangan 11. Dan menjadi renungan firman pagi pertama saya di tahun
2016 :D ... yeaay
Semoga
artikel ini memberkati
Salam,
Jawan Udau #mc11
No comments:
Post a Comment