“Pesan apa mas? Biasa, Cafe Yen..”
Sebuah dialog khas antara saya dan waiters
coffee shop langganan saya. Sebuah kalimat pembuka tanda dimulainya sebuah
petualangan dengan rasa khas oleh barista
Prada Coffee. Hari itu cuaca cukup cerah, dengan suhu yang tidak begitu
menyengat kulit matahari tampak megah dengan sinarnya, awan yang bergerak
dibawa bentangan birunya langit. Namun, sayangnya menurut realita, cuaca dalam
hati saya tidak secerah cuaca diluar
Dimulai dari pagi yang berat,
seolah terperangkap dalam lumpur hidup saya harus mengayunkan langkah pertama
saya menuju kamar mandi dan siap mengarungi hari. Setiba di
kampus, saya pertama kali harus ke sebuah lembaga untuk menagih janji dan
mengambil secarik kertas berisikan nama dan skor toefl saya. Sedikit kekecewaan,
sebab apa yang saya cari tidak saya dapatkan. Berlanjut ke Fakultas Bahasa dan
Seni, UNY, pandangan mata saya yang pertama menuju ke sebuah ruangan yang
kebanyakan orang menyebutnya kantor (ya memang) haha. Tatapan saya bertahan
selama kurang lebih 5 detik. Tidak ada siapapun disana, kekecewaanpun bertambah.
Dengan hati yang berat saya harus memutar balik langkah saya menuju “tangga penantian”. Tangga penantian adalah saksi bisu dari perjuangan mahasiswa S1 yang sedang memperjuangkan haknya untuk lulus dan pada tangga penantianlah mereka silih berganti menanti. Seolah mendapat salam dari tangga penantian sekaligus sebuah sindiran, “sudah lama tak mampir hai pejuang..”. Tanpa memperdulikan gumamnya, saya langsung bergegas dan meninggalkannya.
Dengan hati yang berat saya harus memutar balik langkah saya menuju “tangga penantian”. Tangga penantian adalah saksi bisu dari perjuangan mahasiswa S1 yang sedang memperjuangkan haknya untuk lulus dan pada tangga penantianlah mereka silih berganti menanti. Seolah mendapat salam dari tangga penantian sekaligus sebuah sindiran, “sudah lama tak mampir hai pejuang..”. Tanpa memperdulikan gumamnya, saya langsung bergegas dan meninggalkannya.
Kami mulai bercerita panjang lebar,
tanpa memperdulikan riuhnya jalan raya. Ada banyak bahasan hari itu, mulai dari
mimpi hingga pembahasan mengenai kopi. Namun ada sebuah pemandangan yang
agaknya sedikit menyita perhatian saya dari lawan bicara saya. Tepat menghadap
ke jalan raya, sebelah barat kedai. Sebuah pemandangan yang mungkin membuka
sensitivitas jiwa saya sejenak. Dua jam semenjak kami memulai pembicaraan,
sudah ada lebih dari tiga Ambulance yang melintas. Tak hanya itu, tepat di
seberang kedai tampak seorang pria kurus, dengan pakaian yang tampaknya sudah
lama tak tersentuh oleh detergen.
*Next ke postingan berikutnya*
-JU-
No comments:
Post a Comment