Our Blog

Cerita Kedai Kopi 1

“Pesan apa mas? Biasa, Cafe Yen..” Sebuah dialog khas antara saya dan waiters coffee shop langganan saya. Sebuah kalimat pembuka tanda dimulainya sebuah petualangan dengan rasa khas oleh barista Prada Coffee. Hari itu cuaca cukup cerah, dengan suhu yang tidak begitu menyengat kulit matahari tampak megah dengan sinarnya, awan yang bergerak dibawa bentangan birunya langit. Namun, sayangnya menurut realita, cuaca dalam hati saya tidak secerah cuaca diluar

Dimulai dari pagi yang berat, seolah terperangkap dalam lumpur hidup saya harus mengayunkan langkah pertama saya menuju kamar mandi dan siap mengarungi hari. Setiba di kampus, saya pertama kali harus ke sebuah lembaga untuk menagih janji dan mengambil secarik kertas berisikan nama dan skor toefl saya. Sedikit kekecewaan, sebab apa yang saya cari tidak saya dapatkan. Berlanjut ke Fakultas Bahasa dan Seni, UNY, pandangan mata saya yang pertama menuju ke sebuah ruangan yang kebanyakan orang menyebutnya kantor (ya memang) haha. Tatapan saya bertahan selama kurang lebih 5 detik. Tidak ada siapapun disana, kekecewaanpun bertambah. 

Dengan hati yang berat saya harus memutar balik langkah saya menuju “tangga penantian”. Tangga penantian adalah saksi bisu dari perjuangan mahasiswa S1 yang sedang memperjuangkan haknya untuk lulus dan pada tangga penantianlah mereka silih berganti menanti. Seolah mendapat salam dari tangga penantian sekaligus sebuah sindiran, “sudah lama tak mampir hai pejuang..”.  Tanpa memperdulikan gumamnya, saya langsung bergegas dan meninggalkannya.

Saya mantapkan langkah menuju Coffee Shop andalan, dimana saya bisa lebih tenang dan memanjakan lidah dengan rasa kopi yang khas. Pesanan telah datang, satu gelas Cafe Yen yang tampak memikat. Espresso, susu skim, dan skm jadi satu tempat dan siap untuk menghujam lidah saya. Sensasi yang selalu saya tunggu - tunggu. Hari itu, hanya saya dan mas waiters yang ada dalam ruangan yang memanjang dengan beberapa pajangan lukisan, foto, dan list menu. Ruangan yang tampak begitu klasik dan tenang, saya suka tempat ini.

Kami mulai bercerita panjang lebar, tanpa memperdulikan riuhnya jalan raya. Ada banyak bahasan hari itu, mulai dari mimpi hingga pembahasan mengenai kopi. Namun ada sebuah pemandangan yang agaknya sedikit menyita perhatian saya dari lawan bicara saya. Tepat menghadap ke jalan raya, sebelah barat kedai. Sebuah pemandangan yang mungkin membuka sensitivitas jiwa saya sejenak. Dua jam semenjak kami memulai pembicaraan, sudah ada lebih dari tiga Ambulance yang melintas. Tak hanya itu, tepat di seberang kedai tampak seorang pria kurus, dengan pakaian yang tampaknya sudah lama tak tersentuh oleh detergen.

*Next ke postingan berikutnya*

-JU- 

No comments:

Post a Comment

Never Stop Learn Designed by Templateism | Powered by Benuanta.ID Copyright © 2017

Theme images by richcano. Powered by Blogger.